Senin, 09 Juli 2012

SCABIES

 PROPOSAL SKRIPSI

HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB
TERJADINYA PENYAKIT SCABIES
DI WILAYAH PUSKESMAS SIMPANG TIGA
KECAMATAN SIMPANG TIGA
ACEH BESAR
















OLEH


ZOHRA WATI KAKAK YASIR
NPM  0616010078




UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
BANDA ACEH
2010





BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
    Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Oebaya (1985:16) mengemukakan dua pengertian sehat, terutama dalam arti sempit dan arti luas. Secara sempit sehat diartikan bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Sedangkan secara luas, sehat berarti sehat secara fisik, mental maupun sosial. Sedangkan menurut World Health Organitation (WHO) 1947, sehat adalah keadaan sejahtera sempurna fisik, mental dan sosial, yang tidak terbatas pada bebas  dari penyakit atau kelemahan saja, dan menurut UUD RI No 23 tahun 1992 sehat adalah suatu keadaan sejahtera dan badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan seseorang hidup produktif secara sosial dan ekonomis
    Pendapat lain tentang sehat menurut Bustan (1995:9) bahwa kesehatan lingkungan merupakan usaha manusia mengelola lingkungan sedemikian rupa, dengan demikian derajat kesehatan manusia dapat lebih ditingkatkan. Seseuai dengan dua pendapat diatas, bahwa sehat berarti hanya pada keadaan fisik saja namun lebih dari pada itu, bahwa kesehatan non fisik juga perlu di perhatikan. Sehat fisik yang dimaksud adalah tubuh manusia yang tidak terserang penyakit, juga dapat bekerja secara baik. Sehat mental berarti seseorang dapat pikiran untuk mengatur kerja tubuhnya. Kemudian yang diartikan sehat sosial, dimana seseorang dapat bergaul dengan orang lain yang dapat memberikan kesenangan. Kita menyadari bahwa kesehatan yang kita miliki adalah merupakan anugerah Allah SWT yang harus kita syukuri dan dijaga. Untuk itu agar manusia tetap dalam kondisi sehat perlu dijaga setiap saat dengan menjaga kebersihan.
Manusia dalam kehidupannya mendambakan kesehatan terhadap dirinya dan keluarganya. Kesehatan akan diperoleh bila terciptanya kebersihan lingkungan. Oleh karena itu kebersihan lingkungan harus dijaga oleh semua pihak termasuk bagi semua warga sekolah. Hal ini dapat kita terima karena orang yang sehatlah yang mampu menghayati, melaksanakan serta berpartisipasi dalam kegiatan menjalanin kehidupan sehari-hari serta lebih jauh lagi dalam membangun bangsa dan negara.
Kebersihan merupakan anjuran bagi kita semua. Kebersihan yang dianjurkan itu meliputi seluruh aspek kehidupan, baik fisik maupun non fisik. Kebersihan pada aspek fisik antara  lain adalah lingkungan, yang dianggap paling penting, dalam kehidupan masyarakat dalam hal menunjang kenyamanan semua orang dalam melakukan segala aktivitas hariannya. Dengan demikian diharapkan agar kebersihan menjadi sorotan dan perhatian semua pihak,  karena jika kebersihan lingkungan tidak dipoerhatikan maka dikhawatirkan  akan timbul bermacam-macam dampak negatif terhadap kemajuan masyarakat, melemahkan potensi yang ada akibat terganggunya kesehatan.
Banyak penyakit yang menyerang manusia jika lingkungan sekitarnya tidak bersih, salah satunya adalah penyakit scabies. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh penulis di Puskesmas Simpang Tiga Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Aceh Besar tahun 2010, terdapat sekitar 267 orang warga masyarakat yang terserang scabies. Ini menunjukkan angka yang cukup besar. Hal ini kebiasaan masyarakat yang kurang memperhatikan dan menjaga kebersihan diri dan lingkungannya. Dalam menjaga bersihan diri masyarakat beranggapan sudah cukup dan tidak akan menimbulkan masalah kesehatan khususnya penyakit kulit.
Jumlah peningkatan akibat penyakit kulit mencapai 15% diantaranya jarang mandi, serta 42% akibat sering berganti pakaian dengan teman. Jumlah kerugian akibat penyakit ini naik dari 30 milyar dollar AS tahun 1990 menjadi 70 milyar tahun 1999. Dari banyaknya kejadian penyakit kulit diatas akibat dari perilaku yang tidak sehat, Dipengaruhi juga oleh pengetahuan yang kurang. (Juli Soemaningrat, 2003).
Pengaruh pengetahuan terhadap praktek  dapat bersifat langsung  maupun  melalui perantara sikap, untuk terwujudnya sikap agar menjadi suatu perbuatan yang nyata (praktek) di perlukan faktor pendukung/kondisi yang memungkinkan. Dari tersedianya sarana sampai tingkat pengetahuan dan pendidikan kesehatan seseorang akan mempengaruhui sikapnya. Masyarakat di kecamatan simpang tiga Aceh Besar ini, mayoritas berpendidikan rendah  hanya sampai tamat SD atau SMP, sehingga kurang tahu tentang kebersihan diri, sikap mereka terhadap lingkungan  dan cara praktek yang dapat menjaga kebersihan diri. 




Scabies sangat mengganggu dalam kehidupan sehari-hari. Kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan Menjaga kebersihan tubuh sangat penting untuk mencegah infestasi parasit. Sebaiknya mandi dua kali sehari, menghindari kontak langsung dengan penderita mengingat parasit mudah menular pada kulit. Karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Keadaan ini sangat  menyusahkan  dan membuat ketidaknyamanan pada seseorang sebagaimana yang terdapat dalam daur ulang Bloom (1981) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan.
    Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan penulis sebelumnya bahwa masyarakat di sekitar wilayah Puskesmas Simpang Tiga banyak yang menderita penyakit scabies, yaitu sekitar 267 penduduk yang sedang menderita penyakit tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang menyebabkan penyakit scabies dan penulis menunagkannya dalam bentuk skripsi yang berjudul: “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penyakit Scabies di Wilayah Puskesmas Simpang Tiga Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Aceh Besar Tahun 2010”.

1.2    Rumusan Masalah
Bagaimanakah hubungan faktor-faktor terjadinya penyakit scabies di wilayah Puskesmas Simpang Tiga Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Aceh Besar Tahun 2010?


1.3 Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan faktor-faktor terjadinya penyakit scabies di wilayah Puskesmas Simpang Tiga Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Aceh Besar Tahun 2010.
2.    Tujuan Khusus
a.    Mengetahui faktor penyediaan air bersih dengan terjadinya penyakit scabies yang terjadi  pada masyarakat kecamatan Simpang Tiga Aceh Besar Tahun 2010.
b.    Mengetahui faktor hygiene perorangan dengan terjadinya penyakit scabies yang terjadi pada masyarakat kecamatan Simpang Tiga Aceh Besar Tahun 2010.
c.    Mengetahui faktor kelembaban dengan terjadinya penyakit scabies yang terjadi  pada masyarakat kecamatan Simpang Tiga Aceh Besar Tahun .
d.    Mengetahui faktor kepadatan hunian dengan terjadinya penyakit scabies yang terjadi  pada masyarakat kecamatan Simpang Tiga Aceh Besar Tahun .
e.    Mengetahui faktor status gizi perorangan dengan terjadinya penyakit scabies yang terjadi  pada masyarakat kecamatan Simpang Tiga Aceh Besar Tahun .


1.4 Manfaat Penelitian
    Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maipun secara praktis.
1.4.1 Manfaat Teoritis
Untuk menambah khazanah perpustakaan di Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh.

1.4.2 Manfaat Praktis
1.    Bagi instansi pendidikan
Untuk memberikan informasi dan masukan agar dapat digunakan dalam  menentukan  strategi perencanaan pendidikan kesehatan.
2.    Bagi masyarakat kecamatan Simpang Tiga Aceh Besar.
Memberikan informasi kepada masyarakat dalam upaya peningkatan derajat kesehatan terkait kebersihan lingkungan dalam rangka mecegah terserangnya penyakit scabies.
3.  Bagi para praktisi kesehatan
Memberikan informasi mengenai faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian scabies sehingga mendapatkan perhatian khusus oleh individu yang bersangkutan dalam penyelenggaraan upaya peningkatan kesehatan perawatan diri.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Penyakit Scabies
2.1.1 Definisi
    Scabies, penyakit kulit menular yang disebabkan oleh seekor tungau (kutu/mite) yang bernama Sarcoptes scabei, filum Arthopoda , kelas Arachnida, ordo Ackarina, superfamili Sarcoptes. Pada manusia oleh S. scabiei var homonis, pada babi oleh S. scabiei var suis, pada kambing oleh S. scabiei var caprae, pada biri-biri oleh S. scabiei var ovis (Soekidjo, 1997:45). Ukurannya sangat kecil, hanya bisa dilihat dibawah lensa mikroskop, yang hidup didalam jaringan kulit penderita, hidup membuat terowongan yang bentuknya memanjang dimalam hari. Itu sebabnya rasa gatal makin menjadi-jadi dimalam hari, sehingga membuat orang sulit tidur. Dibandingkan penyakit kulit gatal lainnya, scabies merupakan penyakit kulit yang paling gatal.
Bila diperdengarkan kata scabies, kebanyakan orang awam masih terdengar asing, namun bila kita mengatakan penyakit gudiken, seketika orang paham. Bagi orang lulusan pesantren, penyakit jenis ini dirasa sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari. Sampai ada ungkapan, bahwa belum afdhol bagi seseorang yang nyantri di pondok pesantren bila belum terkena gudiken. Nama-nama lain scabies antara lain Kudis, The Itch, Gudig, Budukan, Gatal Agogo.


2.1.2 Penyebab Scabies
Scabies disebabkan oleh tungau. Adapun siklus hidup tungau ini berawal setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2 -3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50 . Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telurnya akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2 -3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8 – 12 hari (Bustan dan Arsunan, 2001). Telur menetas menjadi larva dalam waktu 3 – 4 hari, kemudian larva meninggalkan terowongan dan masuk ke dalam folikel rambut. Selanjutnya larva berubah menjadi nimfa yang akan menjadi parasit dewasa. Tungau betina akan mati setelah meninggalkan telur, sedangkan tungau jantan mati setelah kopulasi. Sarcoptes scabiei betina dapat hidup diluar pada suhu kamar selama lebih kurang 7 – 14 hari. Yang diserang adalah bagian kulit yang tipis dan lembab, contohnya lipatan kulit pada orang dewasa. Pada bayi,karena seluruh kulitnya masih tipis, maka seluruh badan dapatterserang.
Penyakit ini menular dari hewan ke manusia (zoonosis), manusia ke hewan, bahkan dari manusia ke manusia. Cara penularannya adalah lewat kontak langsung maupun tak langsung antara penderita dengan orang lain, melalui kontak kulit, baju, handuk dan bahan-bahan lain yang berhubungan langsung dengan si penderita. Julukan scabies sebagai penyakitnya anak pesantren alasannya karena anak pesantren suka (baca gemar) bertukar, pinjam-meminjam pakaian, handuk, sarung bahkan bantal, guling dan kasurnya kepada sesamanya, sehingga disinilah kunci akrabnya penyakit ini dengan dunia pesantren.
Tempat-tempat yang menjadi favorit bagi sarcoptes scabei tinggal adalah daerah-daerah lipatan kulit, seperti telapak tangan, kaki, selakangan, lipatan paha, lipatan perut, ketiak dan daerah vital.
Sarcoptes scabei betina yang berada di lapisan kulit stratum corneum dan stratum lucidum membuat terowongan ke dalam lapisan kulit. Di dalam terowongan inilah Sarcoptes betina bertelur dan dalam waktu singkat telur tersebut menetas menjadi hypopi yakni sarcoptes muda dengan tiga pasang kaki. Akibat terowongan yang digali Sarcoptes betina dan hypopi yang memakan sel-sel di lapisan kulit itu, penderita mengalami rasa gatal, akibatnya penderita menggaruk kulitnya sehingga terjadi infeksi ektoparasit dan terbentuk kerak berwarna coklat keabuan yang berbau anyir. Sarcoptes tidak tahan dengan udara luar. Kalau orang yang menderita kudisan dan sering menggaruk pada kulit yang terkena tungau, tungau-tungau itu tetap dapat bertahan hidup karena kerak yang copot dari kulit memproteksi (jadi payung) tungau terhadap udara luar. Akibat lain kegiatan menggaruk tadi adalah mundulnya infeksi sekunder, dengan munculnya nanah (pus) dalam luka tadi. Hal ini akan menyulitkan pengobatan.

2.1.3 Gejala
Gejala yang ditunjukkan adalah warna merah, iritasi dan rasa gatal pada kulit yang umumnya muncul di sela-sela jari, siku, selangkangan, dan lipatan paha. Gejala lain adalah munculnya garis halus yang berwarna kemerahan di bawah kulit yang merupakan terowongan yang digali Sarcoptes betina. Gejala lainnya muncul gelembung berair pada kulit (Soekidjo, 1997)
2.1.4 Diagnosa
Diagnosa pasti scabies dilakukan dengan membuat kerokan kulit pada daerah yang berwarna kemerahan dan terasa gatal. Kerokan yang dilakukan sebaiknya dilakukan agak dalam hingga kulit mengeluarkan darah karena Sarcoptes betina bermukim agak dalam di kulit dengan membuat terowongan. Untuk melarutkan kerak digunakan larutan KOH 10 persen. selanjutnya hasil kerokan tersebut diamatai dengan mikroskop dengan perbesaran 10-40 kali.
Ada 4 tanda cardinal (Budiman, 2001) :
1.    Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.
2.    Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi, yang seluruh anggota keluarganya terkena, walaupun mengalami infestasi tungau, tetapi tidak memberikan gejala. Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carrier).
3.    Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan ini ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimarf (pustule, ekskoriasi dan lain-lain). Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mammae (wanita), umbilicus, bokong, genitalia eksterna (pria) dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki.
4.    Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostic. Dapat ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini.
2.1.5 Pengobatan
Semua keluarga yang berkontak dengan penderita harus diobati. Beberapa macam obat yang dapat dipakai pada pengobatan scabies yaitu:
1.    Permetrin. Merupakan obat pilihan untuk saat ini , tingkat keamanannya cukup tinggi, mudah pemakaiannya dan tidak mengiritasi kulit. Dapat digunakan di kepala dan leher anak usia kurang dari 2 tahun. Penggunaannya dengan cara dioleskan ditempat lesi lebih kurang 8 jam kemudian dicuci bersih
2.    Malation. Malation 0,5 % dengan daasar air digunakan selama 24 jam. Pemberian berikutnya diberikan beberapa hari kemudian.
3.    Emulsi Benzil-benzoas (20-25 %). Efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama tiga hari. Sering terjadi iritasi dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.
4.    Sulfur. Dalam bentuk parafin lunak, sulfur 10 % secara umum aman dan efektif digunakan. Dalam konsentrasi 2,5 % dapat digunakan pada bayi. Obat ini digunakan pada malam hari selama 3 malam.
5.    Monosulfiran. Tersedia dalam bentuk lotion 25 %, yang sebelum digunakan harus ditambah 2 – 3 bagian dari air dan digunakan selama 2 – 3 hari.
6.    Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan). Kadarnya 1 % dalam krim atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan dan jarang terjadi iritasi. Tidak dianjurkan pada anak di bawah 6 tahun dan wanita hamil karena toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemberian cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala ulangi seminggu kemudian.
7.    Krotamiton 10 % dalam krim atau losio, merupakan obat pilihan. Mempunyai 2 efek sebagai antiskabies dan antigatal.
Yang terpenting dalam pengobatan scabies, adalah seluruh orang yang tinggal ditempat yang sama dengan penderita juga harus diobati. Semua pakaian, handuk, bantal, kasur harus dijemur dibawah sinar matahari. Tujuannya agar tungau mati karena sinar matahari. Pakaian dicuci dengan menggunakan cairan karbol. Dan bila semua telah dilakukan, terpenting adalah mengubah cara hidup sehari-hari dengan tidak saling meminjamkan pakaian dan barang pribadi lainnya ke orang lain. Dengan begitu, scabies pasti akan musnah ditelan bumi, dan anak-anak pesantren pun akan tersenyum bangga, bebas dari penyakit yang selama berabad-abad identik dengan kehidupannya.
2.1.6 Jenis-Jenis Scabies
Terdapat beberapa bentuk skabies atipik yang jarang ditemukan dan sulit dikenal, sehingga dapat menimbulkan kesalahan diagnosis. Beberapa bentuk tersebut antara lain (Budiman, 1995):
1.    Skabies pada orang bersih (scabies of cultivated). Bentuk ini ditandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga sangat sukar ditemukan.
2.    Skabies incognito. Bentuk ini timbul pada scabies yang diobati dengan kortikosteroid sehingga gejala dan tanda klinis membaik, tetapi tungau tetap ada dan penularan masih bisa terjadi. Skabies incognito sering juga menunjukkan gejala klinis yang tidak biasa, distribusi atipik, lesi luas dan mirip penyakit lain.
3.    Skabies nodular. Pada bentuk ini lesi berupa nodus coklat kemerahan yang gatal. Nodus biasanya terdapat didaerah tertutup, terutama pada genitalia laki-laki, inguinal dan aksila. Nodus ini timbul sebagai reaksi hipersensetivitas terhadap tungau scabies. Pada nodus yang berumur lebih dari satu bulan tungau jarang ditemukan. Nodus mungkin dapat menetap selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun telah diberi pengobatan anti scabies dan kortikosteroid.
4.    Skabies yang ditularkan melalui hewan. Di Amerika, sumber utama skabies adalah anjing. Kelainan ini berbeda dengan skabies manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak menyerang sela jari dan genitalia eksterna. Lesi biasanya terdapat pada daerah dimana orang sering kontak/memeluk binatang kesayangannya yaitu paha, perut, dada dan lengan. Masa inkubasi lebih pendek dan transmisi lebih mudah. Kelainan ini bersifat sementara (4 – 8 minggu) dan dapat sembuh sendiri karena S. scabiei var. binatang tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya pada manusia.
5.    Skabies Norwegia. Skabies Norwegia atau skabies krustosa ditandai oleh lesi yang luas dengan krusta, skuama generalisata dan hyperkeratosis yang tebal. Tempat predileksi biasanya kulit kepala yang berambut, telinga bokong, siku, lutut, telapak tangan dan kaki yang dapat disertai distrofi kuku. Berbeda dengan scabies biasa, rasa gatal pada penderita skabies Norwegia tidak menonjol tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang menginfestasi sangat banyak (ribuan). Skabies Norwegia terjadi akibat defisiensi imunologik sehingga sistem imun tubuh gagal membatasi proliferasi tungau dapat berkembangbiak dengan mudah.
6.    Skabies pada bayi dan anak. Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo, ektima sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, lesi di muka.
7.    Skabies terbaring ditempat tidur (bed ridden). Penderita
penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal ditempat
tidur dapat menderita skabies yang lesinya terbatas.

2.2 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penyakit Scabies
    Adapun faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit scabies adalah penyediaan air bersih, hygiene perorangan, kelembaban, kepadatan hunia dan status gizi.
1. Penyediaan Air Bersih
    Air merupakan zat yang memiliki peranan sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Manusia akan lebih cepat meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan makanan. Di dalam tubuh manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari air. Tubuh orang dewasa, sekitar 55-60 % berat badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65 % dan untuk bayi sekitar 80%. Air dibutuhkan oleh manusia untuk memenuhi berbagai kepentingan antara lain: diminum, masak, mandi, mencuci dan pertanian.
Menurut perhitungan WHO, di negara-negara maju tiap orang memerlukan air antara 60-120 liter per hari. Sedangkan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, tiap orang memerlukan air 30-60 liter per hari. Diantara kegunaan-kegunaan air tersebut yang sangat penting adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan minum air harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi manusia.
Penyakit yang disebabkan oleh insekta pada kulit sangat ditentukan oleh tersedianya air bersih untuk hygiene perorangan yang ditujukan intuk mencegah invasi parasit pada tubuh, pakaian. Penularan penyakit scabies dapat dipermudah dengan kurangnya penyediaan air bersih.
Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. Kep.02/MENKLH/I/1998 air berdasarkan kegunaannya dibedakan menjadi empat golongan yaitu:
1.    Golongan A yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa diolah terlebih dahulu.
2.    Golongan B yaitu air yang dapat digunakan untuk perikanan akan tetapi dapat diolah untuk air minum dan keperluan rumah tangga.
3.    Golongan C yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian dan
4.    Golongan D yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian dan dapat dimanfaatkan untuk usaha perkotaan,industri dan listrik tenaga air.
Agar air minum tidak menyebabkan penyakit, maka air tersebut hendaknya diusahakan memenuhi persyaratan-persyaratan kesehatan, setidaknya diusahakan mendekati persyaratan tersebut. Air yang sehat harus mempunyai persyaratan sebagai berikut:
1. Syarat fisik
Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tak berwarna), tidak berasa, suhu dibawah suhu udara diluarnya sehingga dalam kehidupan sehari-hari. Cara mengenal air yang memenuhi persyaratan fisik ini tidak sukar.
2. Syarat bakteriologis
Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen. Cara untuk mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan memeriksa sampel (contoh) air tersebut. Dan bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 4 bakteri E. coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan.
3.  Syarat kimia
Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu didalam jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia didalam air akan menyebabkan gangguan fisiologis pada manusia. Sesuai dengan prinsip teknologi tepat guna di pedesaan maka air minum yang berasal dari mata air dan sumur dalam adalah dapat diterima sebagai air yang sehat dan memenuhi ketiga persyaratan tersebut diatas asalkan tidak tercemar oleh kotoran-kotoran terutama kotoran manusia dan binatang. Oleh karena itu mata air atau sumur yang ada di pedesaan harus mendapatkan pengawasan dan perlindungan agar tidak dicemari oleh penduduk yang menggunakan air tersebut.
Pada prinsipnya semua air dapat diproses menjadi air minum. Sumber-sumber air ini, sebagai berikut:
1. Air hujan
Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum, tetapi air hujan ini tidak mengandung kalsium. Oleh karena itu, agar dapat dijadikan air minum yang sehat perlu ditambahkan kalsium didalamnya.
2. Air sungai dan danau
Air sungai dan danau berdasarkan asalnya juga berasal dari air hujan yang mengalir melalui saluran-saluran ke dalam sungai atau danau. Kedua sumber air ini sering juga disebut air permukaan. Oleh karena air sungai dan danau ini sudah terkontaminasi atau tercemar oleh berbagai macam kotoran, maka bila akan dijadikan air minum harus diolah terlebih dahulu.
3. Mata air
Air yang keluar dari mata air ini berasal dari air tanah yang muncul secara alamiah. Oleh karena itu, air dari mata air ini bila belum tercemar oleh kotoran sudah dapat dijadikan air minum langsung. Tetapi karena kita belum yakin apakah betul belum tercemar maka alangkah baiknya air tersebut direbus dahulu sebelum diminum.
4. Air sumur
a.    Air sumur dangkal adalah air yang keluar dari dalam tanah, sehingga disebut sebagai air tanah. Air berasal dari lapisan air di dalam tanah yang dangkal. Dalamnya lapisan air ini dari permukaan tanah dari tempat yang satu ke yang lain berbeda-beda. Biasanya berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter dari permukaan tanah. Air sumur pompa dangkal ini belum begitu sehat karena kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih ada. Oleh karena itu perlu direbus dahulu sebelum diminum.
b.    Air sumur dalam yaitu air yang berasal dari lapisan air kedua di dalam tanah. Dalamnya dari permukaan tanah biasanya lebih dari 15 meter. Oleh karena itu, sebagaian besar air sumur dalam ini sudah cukup sehat untuk dijadikan air minum yang langsung (tanpa melalui proses pengolahan).
Ada beberapa cara pengolahan air minum antara lain sebagai berikut:


1. Pengolahan Secara Alamiah
Pengolahan ini dilakukan dalam bentuk penyimpanan dari air yang diperoleh dari berbagai macam sumber, seperti air danau, air sungai, air sumur dan sebagainya. Di dalam penyimpanan ini air dibiarkan untuk beberapa jam di  tempatnya. Kemudian akan terjadi koagulasi dari zat-zat yang terdapat didalam air dan akhirnya terbentuk endapan. Air akan menjadi jernih karena partikel-partikel yang ada dalam air akan ikut mengendap.
2. Pengolahan Air dengan Menyaring
Penyaringan air secara sederhana dapat dilakukan dengan kerikil, ijuk dan pasir. Penyaringan pasir dengan teknologi tinggi dilakukan oleh PAM (Perusahaan Air Minum) yang hasilnya dapat dikonsumsi umum.
3. Pengolahan Air dengan Menambahkan Zat Kimia
Zat kimia yang digunakan dapat berupa 2 macam yakni zat kimia yang berfungsi untuk koagulasi dan akhirnya mempercepat pengendapan (misalnya tawas). Zat kimia yang kedua adalah berfungsi untuk menyucihamakan (membunuh bibit penyakit yang ada didalam air, misalnya klor (Cl).
4. Pengolahan Air dengan Mengalirkan Udara
Tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, menghilangkan gas-gas yang tak diperlukan, misalnya CO2 dan juga menaikkan derajat keasaman air.
5. Pengolahan Air dengan Memanaskan Sampai Mendidih
Tujuannya untuk membunuh kuman-kuman yang terdapat pada air. Pengolahan semacam ini lebih tepat hanya untuk konsumsi kecil misalnya untuk kebutuhan rumah tangga. Dilihat dari konsumennya, pengolahan air pada prinsipnya dapat digolongkan menjadi 2 yakni:
a.    Pengolahan Air Minum untuk Umum
b.    Penampungan Air Hujan. Air hujan dapat ditampung didalam suatu dam (danau buatan) yang dibangun berdasarkan partisipasi masyarakat setempat. Semua air hujan dialirkan ke danau tersebut melalui alur-alur air. Kemudian disekitar danau tersebut dibuat sumur pompa atau sumur gali untuk umum. Air hujan juga dapat ditampung dengan bak-bak ferosemen dan disekitarnya dibangun atap-atap untuk mengumpulkan air hujan. Di sekitar bak tersebut dibuat saluran-saluran keluar untuk pengambilan air untuk umum. Air hujan baik yang berasal dari sumur (danau) dan bak penampungan tersebut secara bakteriologik belum terjamin untuk itu maka kewajiban keluarga-keluarga untuk memasaknya sendiri misalnya dengan merebus air tersebut.
6. Pengolahan Air Sungai
Air sungai dialirkan ke dalam suatu bak penampung I melalui saringan kasar yang dapat memisahkan benda-benda padat dalam partikel besar. Bak penampung I tadi diberi saringan yang terdiri dari ijuk, pasir, kerikil dan sebagainya. Kemudian air dialirkan ke bak penampung II. Disini dibubuhkan tawas dan chlor. Dari sini baru dialirkan ke penduduk atau diambil penduduk sendiri langsung ke tempat itu. Agar bebas dari bakteri bila air akan diminum masih memerlukan direbus terlebih dahulu.


7. Pengolahan Mata Air
Mata air yang secara alamiah timbul di desa-desa perlu dikelola dengan melindungi sumber mata air tersebut agar tidak tercemar oleh kotoran. Dari sini air tersebut dapat dialirkan ke rumah-rumah penduduk melalui pipa-pipa bambu atau penduduk dapat langsung mengambilnya sendiri ke sumber yang sudah terlindungi tersebut.
8. Pengolahan Air Untuk Rumah Tangga
Air sumur pompa terutama air sumur pompa dalam sudah cukup memenuhi persyaratan kesehatan. Tetapi sumur pompa ini di daerah pedesaan masih mahal, disamping itu teknologi masih dianggap tinggi untuk masyarakat pedesaan. Yang lebih umum di daerah pedesaan adalah sumur gali.
Agar air sumur pompa gali ini tidak tercemar oleh kotoran di sekitarnya, perlu adanya syarat-syarat sebagai berikut:
a.    Harus ada bibir sumur agar bila musim huujan tiba, air tanah tidak akan masuk ke dalamnya.
b.    Pada bagian atas kurang lebih 3 m dari ppermukaan tanah harus ditembok, agar air dari atas tidak dapat mengotori air sumur.
c.    Perlu diberi lapisan kerikil di bagian bbawah sumur tersebut untuk mengurangi kekeruhan.
d.    Sebagai pengganti kerikil, ke dalam sumur ini dapat dimasukkan suatu zat yang dapat membentuk endapan, misalnya aluminium sulfat (tawas).
e.    Membersihkan air sumur yang keruh ini dapat dilakukan dengan menyaringnya dengan saringan yang dapat dibuat sendiri dari kaleng bekas.
9. Air Hujan
Kebutuhan rumah tangga akan air dapat pula dilakukan melalui penampungan air hujan. Tiap-tiap keluarga dapat melakukan penampungan air hujan dari atapnya masing¬masing melalui aliran talang. Pada musim hujan hal ini tidak menjadi masalah tetapi pada musim kemarau mungkin menjadi masalah. Untuk mengatasi keluarga memerlukan tempat penampungan air hujan yang lebih besar agar mempunyai tandon untuk musim kemarau.
2. Higiene Perorangan
    Higiene perorangan adalah salah satu cara pencegahan penyakit yang menitik beratkan pada usaha perorangan atau manusia beserta tempat lingkungan dimana orang itu berada.
    Penyakit hygiene sangat erat kaitannya dengan hygiene perorangan dan lingkungan sekitarnya. Sehingga pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan sekitarnya. Higiene pribadi dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan diri seperti mandi, menghindari penggunaan pakaian, handuk dan tempat tidur bersama-sama dengan orang yang menderita penyakit scabies, menjemur handuk dan kasur dibawah sinar matahari, mencuci pakaian dan barang-barang lainnya dengan bersih.
3. Kelembaban
    Kelembaban udara didalam rumah harus sama dengan kelembaban yang terjadi diluar rumah. Menurut Kepmenkes no. 829 tahun 1999 tentang persyaratan kesehatan perumahan, kelembaban udara yang diperbolehkan berkisar antara 40%-70%.

4. Kepadatan Hunian
    Kepadatan hunian akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan. Kepadatan sangat menentukan jumlah penyakit maupun kematian, terutama di Negara berkembang sepeti Indonesia yang masyarakatnya masih banyak mengidap penyakit menular. Kepaadatan hunian rumah akan menyebabkan peningktan suhu ruangan yang disebabkan oleh pengeluaran panas badan yang akan meningkatkan kelembaban akibat uap iar dari pernafasan manusia.
5. Status Gizi
    Status gizi adalah keadaan tubuh yang diakibatkan oleh konsumsi dan penggunaan makanan. Dengan susunan makanan yang memenuhi gizi tubuh akan dapat diciptakan status gizi yang memuaskan. Status gizi yang memuaskan didapatkan melalui konsumsi nutrisi yang baik. Kekurangan gizi dapat mempengaruhi kekuatan daya tahan tubuh dan respon imunologis terhadap penyakit dan keracunan.











2.3 Kerangka Teoritis
    Berdasarkan uraian diatas, maka yang menjadi kerangka teoritis sebagai berikut:






















BAB III
KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Konsep
    Berdasarkan teori  yang dikemukakan oleh Bustan dan Arsunan (1995) faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit scabies adalah penyediaan air bersih, hygiene perorangan, kelembaban, kepadatan hunian dan status gizi. Oleh sebab itu,  maka variable penelitian digambarkan sebagai berikut:
Variabel Independen                     Variabel Dependet       











3.2 Variabel Penelitian
    Berdasarkan kerangka konsep diatas, maka ditetapkan variable pemnelitian sebagai berikut:
a.    Variabel Independen yaitu: penyediaan air bersih, hygiene perorangan, kelembaban, kepadatan hunian dan status gizi.
b.    Variabel dependen yaitu penderita scabies di Wilayah Puskesmas Simpang Tiga Kecamatan Simpang Tiga Aceh Besar.

3.3. Definisi Operasional
No    Variabel    Definisi Operasional    Cara Ukur    Alat Ukur    Hasil Ukur    Skala
Ukur
Dependen
1    Penderita Scabies di Wilayah Puskesmas Simpang Tiga Aceh Besar    Timbulnya masalah pada kulit yang ditandai dengan adanya bintik-bintik merah, gatal dan luka
               
Independen

1    Penyedianaan air bersih    Air bersih yang digunakan untuk keperluan sehari-hari
    Kuesioner    Angket    Baik
Kurang    Ordinal
2    Hygiene Perorangan    Tindakan membersihkan dan merawat badan untuk menghindari muman penyakit
    Kuesioner    Angket    Baik
Kurang   
3    Kelembaban    Kelembaban
Udara di dalam rumah
    Mengukur suhu ruangan    termometer    Tinggi
rendah    Ordinal
4    Kepadatan Hunian    Jumlah penduduk yang terdapat di wilayah Puskesmas Kecamatan Simpang Tiga
    Data    Dokumentasi     -Padat
- Tidak Padat    Ordinal
5    Status Gizi    Keadaan tubuh yang diakibatkan oleh konsumsi dan penggunaan makanan.    Menim
bang berat badan penderita scabies    Weight Scale    -Gemuk
- Kurus
- Normal    Ordinal


3.4 Pengukuran Variabel Penelitian
3.4.1 Variabel kejadian Scabies
    Untuk melakukan pengukuran terhadap masyarakat yang terkena scabies atau tidak dilakuakan dengan memeriksa catatan register kunjungan pasien di Puskesma Simpang Tiga dengan tidak memperhatikan kriteria dari penyakit scabies (ringan, sedang dan berat) Scabies dikategorikan atas:
a.    Positif, jika ditemukan tanda dan gejala scabies seperti gatal-gatal, merah dan adanya tungau.
b.    Negatif jika tidak ditemukan tanda dan gejala scabies.
3.4.2 Penyediaan Air Bersih
a. Bersih
b. Kurang bersih
c. Tidak bersih
3.4.3 Hygiene Perorangan
a. Bersih
b. Kurang bersih
c. Tidak bersih
3.4.4 Kelembaban
a. Lembab
b. Kurang lembab
c. Tidak lembab
3.4.5. Kepadatan Hunian
a. Ramai
b. Tidak ramai
3.4.6 Status Gizi
a. Gemuk
b. Normal
c. Kurus

3.5 Hipotesis Penelitian
    Adapun hipotesis  dalam penelitian ini adalah:
3.5.1 Ada hubungan faktor penyediaan air bersih dengan faktor-faktor yang penyebab penyakit scabies di Wilayah Puskesmas Simpang Tiga Kecamatan Simpang Tiga Aceh Besar.
3.5.2 Ada hubungan faktor hygiene perorangan dengan faktor-faktor yang penyebab penyakit scabies di Wilayah Puskesmas Simpang Tiga Kecamatan Simpang Tiga Aceh Besar.
3.5.3 Ada hubungan faktor kelembaban dengan faktor-faktor yang penyebab penyakit scabies di Wilayah Puskesmas Simpang Tiga Kecamatan Simpang Tiga Aceh Besar.
3.5.4 Ada hubungan faktor kepadatan hunian dengan faktor-faktor yang penyebab penyakit scabies di Wilayah Puskesmas Simpang Tiga Kecamatan Simpang Tiga Aceh Besar.
3.5.5 Ada hubungan faktor status gizi dengan faktor-faktor yang penyebab penyakit scabies di Wilayah Puskesmas Simpang Tiga Kecamatan Simpang Tiga Aceh Besar.


















BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian
    Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik untuk menganalisis hubungan faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit scabies pada masyarakat yang menjadi pasien di Puskesma Wilayah Simpang Tiga Kecamatan Simpoang Tiga Aceh Besar tahun 2010. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah crossectional dimana pengambilan data dilakukan pada satu kurun waktu yang bersamaan.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
    Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Simpang Tiga Aceh Besar, dan waktu penelitian ini adalah bulan Desember 2010.

4.3    Populasi dan Sampel
a.    Populasi
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Disamping itu dapat juga diartikan populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya dapat diduga Populasi dalam penelitian ini adalah masyarkat baik itu anak-anak maupun ornag dewasa yang berobat di Puskesmas Simpang Tiga sebanyak 226 kasus terhitung sejak Juli 2009 sampai dengan November 2010.


b.    Sampel
Sampel adalah sebagian wakil dari populasi yang diteliti.  Dapat dikatakan bahwa sampel adalah sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari populasi. Teknik pengambilan sampel adalah random sampling (undian) karena setiap anggota populasi yang ada didalam sampling frame bersangkutan mempunyai hak yang sama besar untuk dipilih menjadi anggota sampel. Sampel dalam penelitian ini adalah penderita scabies yang berjumlah 20 orang.

4.4    Sumber Data
4.4.1    Data Primer
Data primer merupakan data yang dikumpulkan secara langsung yaitu meliputi data karakteristik masyarakat (pendidikan dan pengetahuan) dan sampel, kejadian penyakit scabies dan proses penyembuhannya.

4.4.2 Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari Posyandu dan Puskesmas di wilayah kerja puskesmas Aceh Besar serta sumber lainnya baik yang bersifat internal (data yang berasal dari dalam lingkungan penelitian) maupun yang bersifat eksternal (data yang berasal dari luar lingkungan penelitian). Pengumpuylan data sekunder ini diperoleh dengan wawancara dengan pihak puskesmas, kantor kecamatan dan penelusuran kepustakaan yang bersifat ilmiah.

4.5    Teknik Pengumpulan Data
4.5.1    Kuesioner
Yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui. Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa angket adalah suatu cara pengumpulan informasi dengan menyampaikan suatu daftar pertanyaan tentang hal-hal yang diteliti.
4.5.2 Observasi
Observasi yaitu memperlihatkan sesuatu dengan mempergunakan mata. Observasi atau yang disebut juga dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera. Jadi pengobservasian dapat dilakukan melalui pengamatan, pendengaran, pencium, peraba, dan pengecap. Penggunaan metode observasi dimaksudkan untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan objek yang diteliti.

4.6 Pengolahan Data
    Data yang diperoleh diolah dengan tahapan berikut ini:
4.6.1    Editing
Editing dilakukan dengan memeriksa ketepatan dan kelengkapan pertanyaan apabila ada data yang belum lengkap, maka dilakukan wawancara ulang.


4.6.2    Coding
Data yang telah terkumpul dan dikoreksi ketepatan dan kelengkapannya kemudian diberi kode penelitian yang dilakukan secara manual.
4.6.3    Tabulating
Data yang telah terkumpul ditabulasi dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.

4.7    Analisa Data
4.7.1    Analisa Univariat
 Analisa Univariate yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui variabel yang akan diteliti yaitu  independen and dependen variable.
4.7.2     Analisa Bivariate
Analisa Bivariate dilakukan untuk mengetahui hubungan penyediaan air bersih, hygiene perorangan, kelembaban, kepadatan hunian dan status gizi yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan rumus “chi square” sebagai berikut:
    X² = (O-E) ²
        E

Keterangan:
    X²    : Chi Square
    O    : Nilai Observasi
    E     : Nilai yang diharapkan


4.8 Penyajian Data
Data yang disajikan berbentuk tabular dan tekstular.
1.    Tabular yaitu penyajian dengan menggunakan tabel atau menggunakan daftar.
2.    Tekstular yaitu penyajian data dengan menggunakan teks atau naskah.



DAFTAR PUSTAKA
Bustan dan Arsunan. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta. 1995.

Budiman Chandra. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: ECG. 2006.

Juli Soemanigrat Slamet. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Gjah Mada University Press. 1994.

Soekidjo Notoadmojo dan Prabu. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Prinsip-Prinsip Dasar. Jakarta : PT. Rineka Cipta. 2003.

Soekidjo Notoadmojo. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta. 1997.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar